PERPUSTAKAAN DIGITAL

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER



Path: Top -> S1 - Skripsi -> Fakultas Pertanian

ANALISIS FINANSIAL USAHA PETERNAKAN SAPI PERAH (Studi Kasus di Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember)

Skripsi/Tugas Akhir from umj / 2002-01-02 16:47:28
Oleh : Yuni Dwi Puspitasari, Fakultas Pertanian
Dibuat : 2002-01-02, dengan 1 file

Keyword : ANALISIS FINANSIAL USAHA PETERNAKAN SAPI PERAH



Abstrak


Produk pertanian dan agroindustri semakin diharapkan perannya dalam pembangunan nasional. Terdapat lima peran yang diharapkan dalam pengembangan pertanian dan agroindustri di Indonesia, yaitu sebagai penghasil devisa, penyerap tenaga kerja, pendorong pemerataan pembangunan, pemacu pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyat, dan pendorong pengembangan wilayah. Agar peran tersebut dapat dioptimalkan, maka diperlukan adanya transformasi pembangunan pertanian ke arah agribisnis dan agroindustri. Titik berat pembangunan ekonomi harus bergeser dari pertanian ke sektor industri, namun tidak berarti lompatan dari sektor pertanian ke sektor industri tidak berbasis pada pertanian. Oleh karena keterbatasan sumberdaya yang dimiliki, maka diperlukan adanya skala prioritas dalam pengembangan agroindustri, sehingga diperoleh kepada hasil yang optimum dari setiap penggunaan sumberdaya (Republik Indonesia, 2001).

Menurut Aji dan Sirait (1984), proyek mempunyai peranan yang penting dalam upaya pembangunan. Hal ini karena melalui proyek dapat dicapai tujuan program yang kesemuanya menunjang kepada pembangunan di tingkat sektor dan akhirnya kepada pembangunan di segala bidang.

Pradana (2010) menyatakan, bahwa subsektor peternakan merupakan salah satu sumber pertumbuhan baru, khususnya bagi sektor pertanian dan perekonomian nasional pada umumnya. Pada tahun 2006, Badan Pusat Statistik mencatat bahwa subsektor peternakan menyumbang Rp 33.309 milyar (12,75%) dari jumlah total produk domestik bruto (PDB) sektor pertanian secara nasional. Permintaan terhadap komoditas peternakan sebagai sumber protein hewani diperkirakan akan semakin meningkat, karena peningkatan jumlah penduduk dan meningkatnya kesadaran akan gizi oleh masyarakat. Pembangunan subsektor peternakan, khususnya pengembangan usaha sapi perah, merupakan salah satu alternatif dalam upaya peningkatan penyediaan sumber kebutuhan protein. Pembangunan peternakan, khususnya pengembangan usaha sapi perah ditujukan kepada satu visi terwujudnya masyarakat yang sehat dan produktif melalui pembangunan peternakan tangguh berbasis sumberdaya lokal.

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki kegiatan agribisnis sapi perah terbesar di kawasan Asia Tenggara. Pengembangan usaha peternakan sapi perah di Indonesia (on farm) beserta industri pengolahannya (off farm) mengalami kemajuan pesat pada tahun 1980 sampai dengan tahun 1990, namun pada tahun 1990 sampai dengan 1999 produksi susu segar relatif tetap. Jumlah susu segar yang diproduksi per tahunnya mencapai kurang lebih 330.000 ton. Produksi tersebut terbagi atas 49% berasal dari Jawa Timur, 36% dari Jawa Barat dan sisanya 15% dari Jawa Tengah. Dari segi perkembangan populasi sapi perah, pada tahun 1970 hanya sekitar 3000 ekor meningkat menjadi 193.000 ekor pada tahun 1985, dan menjadi 369.000 ekor pada tahun 1991. Kenaikan ini terjadi karena adanya impor sapi perah asal Australia dan New Zealand. Pada tahun 1999 industri persusuan nasional hanya memproduksi sekitar 20% terhadap total kebutuhan industri pengolahan, sehingga sisanya masih sangat bergantung kepada bahan baku impor (Wahiduddin, 2010).

Menurut Mashudi (2010), kebijakan peningkatan konsumsi susu per kapita penduduk Indonesia memiliki dampak cukup baik bagi pengembangan susu sapi perah di Indonesia. Peningkatan konsumsi susu segar domestik berdampak langsung terhadap meningkatnya permintaan susu segar produksi peternakan sapi perah rakyat. Selain itu, kebijakan ini dalam jangka panjang dapat mendukung peningkatan daya saing bangsa karena perbaikan gizi masyarakat dengan membiasakan minum susu segar. Dengan demikian hal ini menjadi salah satu aspek strategis yang harus diperhatikan pemerintah untuk melakukan kegiatan promosi dan juga menggalakkan masyarakat untuk meningkatkan konsumsi susu agar dapat hidup lebih sehat dan produktif.

Setiawan (2003) menyatakan, bahwa industri susu nasional baru mampu memenuhi kebutuhan susu dalam negeri sebesar 39,8% saja dari permintaan yang ada. Hal ini terlihat dari negatifnya pertumbuhan produksi susu yang hanya sebesar -20,24%, sementara konsumsi susu mempunyai pertumbuhan rata-rata positif 41,39%. Krisis tersebut telah menyebabkan peningkatan biaya produksi usaha ternak yang mengakibatkan banyak peternak berhenti atau berganti usaha. Konsumsi susu sempat berkurang saat krisis ekonomi mengalami puncaknya tahun 1998, yaitu dari 1.050.000 ton pada tahun 1997 menjadi hanya 897.400 ton pada tahun 1998 akibat penurunan daya beli relatif konsumen. Namun meningkat kembali sebesar 1.116.000 ton pada tahun 1999. Untuk memenuhi kelebihan permintaan yang terjadi, maka dilakukan impor susu yang rata-rata meningkat sebesar 88,14% pada periode 1993-2002.

Kondisi ini tidak bisa dibiarkan berlangsung lama tanpa adanya upaya perbaikan pengelolaan sapi perah. Untuk memperbaiki keadaan ini dibutuhkan usaha yang keras dari segala komponen yang terkait, mulai dari peternak sampai dengan pemerintah. Sistem peternakan sapi perah yang ada di Indonesia masih merupakan jenis peternakan rakyat yang hanya berskala kecil dan masih merujuk pada sistem pemeliharaan yang konvensional. Banyak permasalahan yang timbul seperti permasalahan pakan, reproduksi dan kasus klinik. Agar permasalahan tersebut dapat ditangani dengan baik, maka diperlukan adanya perubahan pendekatan dari pengobatan menjadi bentuk pencegahan dan dari pelayanan individu menjadi bentuk pelayanan kelompok (Wahiduddin, 2010).

Selanjutnya Wahiduddin (2010), menyatakan bahwa keberhasilan usaha peternakan sapi perah sangat tergantung dari keterpaduan 3 langkah, antara lain :

1. Pembibitan (breeding), yaitu populasi sapi perah yang relatif masih sedikit, sementara permintaan susu terus meningkat sehubungan dengan pertambahan penduduk.

2. Pakan (feeding), yaitu produktivitas sapi perah yang sudah ada masih belum dilaksanakan secara lebih terarah dan berkelanjutan. Pemberian ransum pakan dalam kualitas maupun kuantitas belum tertangani dengan baik.

3. Tata laksana (management), yaitu tingkat pengetahuan peternak sapi perah yang belum memadai dalam pengelolaan sapi-sapi perah yang berproduksi tinggi dan pencegahan terhadap berbagai penyakit.

Ketiga bidang tersebut masih belum dapat dilaksanakan dengan baik. Oleh karena itu, dibutuhkan peningkatan pengetahuan dan pemahaman peternak tentang manajemen sapi perah yang baik sehingga akan berdampak pada peningkatan jumlah populasi, produksi susu dan ekonomi.

Populasi sapi perah di Indonesia hingga tahun 2009 baru mencapai 486.794 ekor. Dengan populasi sebanyak ini Indonesia belum mampu untuk mencukupi kebutuhan susu nasional


Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID Publisherumj
OrganisasiF
Nama KontakLutfi Ali Muharom
AlamatJl. Karimata 49
KotaJember
DaerahJawa Timur
NegaraIndonesia
Telepon0331323915
Fax-
E-mail Administratorlutfi.muharom@unmuhjember.ac.id
E-mail CKOhardian@unmuhjember.ac.id

Print ...

Kontributor...

  • , Editor:

Download...