PERPUSTAKAAN DIGITAL

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER



Path: Top -> S1 - Skripsi -> FKIP -> PAUD

AKTIVITAS PENDIDIK DALAM PENERAPAN PENDEKATAN METODE BEYOND CENTERS AND CIRCLE TIMES (BCCT) DI PAUD ABA I KALIWATES JEMBER TAHUN PELAJARAN 2008/2009

Skripsi/Tugas Akhir from umj / 2012-11-11 16:02:31
Oleh : SITI KHOTIJAH NIM : 07127021, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Dibuat : 2012-11-11, dengan 1 file

Keyword : pendekatan metode BCCT.DALAM AKTIVITAS PENDIDIKAN.di kaliwates jember



Latar Belakang


Pendidikan anak usia dini merupakan pendidikan yang sangat mendasar. Hal ini dikarenakan masa usia dini merupakan masa emas perkembangan anak, yang apabila pada masa tersebut anak diberikan stimulasi yang tepat akan menjadi modal penting bagi perkembangan anak di kemudian waktu. Dalam hal ini pendidik anak usia dini paling tidak mengemban tungas melejitkan seluruh potensi kecerdasan anak, penanaman nilai- nilai dasar agama dan pengembangan kemampuan dasar



Anak usia 0 – 6 tahun di kenal sebagai masa keemasan, disamping itu diusia ini anak masih sangat rentan yang apabila penanganannya tidak tepat justru akan merugikan anak itu sendiri. Oleh karena itu pendidik PAUD harus memahami tahap-tahap perkembangan peserta didiknya. Progaram PAUD tidak dimaksudkan untuk mencuri start apa-apa yang seharusnya diperoleh pada jenjang pendidikan dasar, melainkan untuk memberikan fasilitas pendidikan yang sesuai bagi anak, agar anak pada saatnya memiliki kesiapan baik secara fisik, mental, maupun sosial/emosionalnya dalam rangka memasuki pendidikan lebih lanjut.



Kenyataan dilapangan tidak sedikit pendidik PAUD masih belum mengacu betul dengan tahapan-tahapan perkembangan anak. Pada umumnya penyelenggara dan juga pendidik memfokuskan pada peningkatan kemampuan akademik, baik dalam hal hafalan-hafalan maupun kemampuan baca-tulis-hitung, yang prosesnya seringkali mengabaikan tahapan perkembangan anak.



Kecerdasan yang dimiliki oleh seseorang meliputi 8 unsur, antara lain: 1) kecerdasan matematika-logika, 2) kecerdasan bahasa, 3) kecerdasan musikal, 4) kecerdasan visual spasial, 5) kecerdasan natura, 6) Kecerdasan kinestetik, 7) Kecerdasan interpersonal dan 8) kecerdasan intra persona. Melalui konsepnya mengenai kecerdasan multiple atau kecerdasan ganda ini, Gardner ingin mengoreksi keterbatasan cara berpikir yang konvesional mengenai kecerdasan, seolah-olah kecerdasan hanya terbatas pada apa yang diukur oleh beberapa tes intelegensi yang sempit saja, atau sekedar melihat prestasi yang ditampilkan seorang anak hanya melalui ulangan maupun ujian disekolah. Lembaga penelitian UNY(2008:8)



Dalam Undang Undang Nomor 20 tahun 2003 pasal 1, butir 1 tentang sistem pendidikan nasional menyebutkan bahwa pendidikan adalah “usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”. Sedangkan pada pasal 1, butir 14 Pendidikan Anak Usia Dini adalah “suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut”.



Penggunaan Pendekatan BCCT atau pendekatan sentra dan lingkaran ini dimaksudkan untuk memperbaiki praktek penyelengaraan PAUD yang masih banyak terjadi salah kaprah tersebut. Depdiknas (2006:2). Untuk menerapkan peran pendidik tersebut dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan, diantaranya adalah pendekatan “Beyond Centers and Circle time (BCCT)” atau pendekatan “Sentra dan Saat Lingkaran”.



Pendekatan ini dikembangkan di Creative Pre-School Florida, Amerika Serikat dan di Indonesia telah diterapkan secara baik antara lain di Sekolah Al-Fallah Jakarta Timur dan di Kelompok Bermain Istiqlal Jakarta. Dalam pendekatan ini anak dirangsang untuk secara aktif melakukan kegiatan bermain sambil belajar di sentra-sentra pembelajaran. Seluruh kegiatan pembelajaran berfokus pada anak sebagai subyek”pembelajar”, sedangkan pendidik lebih banyak berperan sebagai motivator dan fasilitator dengan memberikan pijakan-pijakan. Pijakan yang diberikan sebelum dan sesudah anak bermain dilakukan dalam setting duduk melingkar, sehingga dikenal sebagai “Saat Lingkaran”. Pijakan lainnya adalah pijakan lingkungan (pemberdayaan keragaman lingkungan main) dan pijakan kepada setiap individu anak (bahwa tidak ada anak yang sama) yang dilakukan selama anak bermain. Dalam pendekatan ini anak diberi kesempatan untuk bermain secara aktif dan kreatif di sentra-sentra pembelajaran yang tersedia guna mengembangkan dirinya seoptimal mungkin sesuai dengan potensi dan minat masing-masing.Depdiknas (2006:i)



Pendekatan BCCT memiliki proses pembelajaran dan penilaian sejak awal penyambutan anak (kehadiran /kedatangan anak) hingga anak pulang (jemputan datang) dan penilaian ini terinci secara jelas dengan tema yang digunakan berbeda dengan lembaga-lembaga lain. Penanganan terhadap anak lebih mengkhusus, luwes dan ada kebebasan anak untuk mencoba dalam bermain.



Selain hal-hal yang berasal dari teori maka ada beberapa hal pengalaman yang pernah dialami langsung oleh penulis diantaranya bermula dari tahun 2004 penulis mendapat pelatihan BCCT di Malang Jawa Timur selama 6 hari yang diselenggarakan oleh PLS Jawa Timur, penulis mulai tertarik untuk lebih mendalami model pembelajaran BCCT dan pada tahun 2006 penulis mendapat kesempatan untuk mengikuti magang di PAUD Istiqlal selama 6 hari untuk mewakili Pendidik PAUD Kabupaten Jember dengan sumber dana dari PLS propinsi Jawa Timur.



Dari pengalaman magang penulis merasa mulai lebih jelas akan BCCT. Pada tanggal 18 Maret 2006 disaat forum tanya jawab dengan peserta magang dari Jawa Timur, Ibu Nibras pengelola PAUD Istiqlah mengatakan bahwa:
“ Dengan Pendekatan BCCT akan dapat dirasakan atau akan tampak hasilnya pada anak Usia Dini antara 20 sampai 25 tahun yang akan dating, utamanya bagi lembaga yang berbasis Islam, kita tanamkan back to Allah kepeda anak didik bahkan harus diawali dari pendidiknya. Bahwa kita berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah, kalau ini dapat kita terapkan dengan benar alangkah indahnya bangsa kita pada masa yang akan dating”.



Jadi Pendekatan BCCT ini merupakan upaya pendidik untuk mempersiapkan generasi masa yang akan datang.



Dari pengalaman penulis dalam kegiatan pelatihan, magang, dan pengalaman sebagai narasumber pendekatan metode BCCT di Kabupaten Jember, penulis mencoba untuk menggali lebih jauh akan.aktivitas pendidik dalam penerapan pendekatan metode BCCT di PAUD ABA 1 Kaliwates Jember, yang penulis rasa unik dan juga menarik untuk diketahui karena metode ini merupakan metode baru yang diterapkan di kabupaten Jember.



Dari lembaga tersebut penulis mengharap untuk dapat mengetahui dengan tepat aktivitas para pendidik dalam penanganan anak usia dini dan tidak lagi salah asuh terhadap penanganan anak usia dini tersebut. Bagi penulis atau pengembang ilmu dapat melanjutkan penelitian ini bagai mana dampak penerapan pendekatan metode BCCT ini terhadap perkembangan holistic pada anak usia dini, untuk itu model konfensional yang akhirnya menjadi pembanding bagi penulis (mengingat cara lama yang dialami oleh penulis dimasa kecil/pengalaman pribadi, tentang perlakuan pendidik terhadap peseta didik), dalam hal ini penulis tidak akan membahas konfensionalnya sebagai permasalahan tetapi bagaimana lembaga yang menerapkan pendekatan metode BCCT ini. Untuk mempermudah penulis memilih penelitian ini di PAUD ABA I Kaliwates Jember yang telah menerapkan metode BCCT.



Pandangan penulis sementara tentang gambaran lembaga PAUD ABA I Kaliwates yang telah menggunakan pendekatan BCCT, memiliki proses pembelajaran dan penilaian sejak awal penyambutan anak (kehadiran /kedatangan anak) hingga anak pulang (jemputan datang) dan penilaian ini terinci secara jelas dengan tema yang digunakan berbeda dengan lembaga-lembaga lain. Penanganan terhadap anak lebih mengkhusus, luwes dan ada kebebasan anak untuk mencoba dalam bermain.



Dari pengalaman penulis bahwa BCCT mempunyai kekhasan dalam mengembangkan semua aspek peserta didiknya yang otomatis pendidik tertuntut:



1. Seorang pendidik harus berani bereksperimen.



Mengapa pendidik harus berani bereksperimen ? karena dalam metode ini pendidik akan lebih banyak praktek langsung mengenalkan benda yang nyata.



2. Sentra yang dipersiapkan



Pendidik harus mempersiapkan sentra sesuai dengan kesiapan pendidik dan juga tersedianya bahan atau alat pendukung sentra tersebut misalnya:



Sentra alam, sentra persiapan, sentra seni dan oleh tubuh, sentra balok, sentra ibadah, dan lain lain sesuai dengan kreatifitas dan kemampuan pendidik dan lembaga.



3. Kerja Tim



BCCT harus dilaksanakan bersama-sama atau kerja Tim. Karena untuk mencapai keberhasisilan maka ketika kita menentukan satukalimat A maka semua hari ini dari pesuruh lembaga sampai kepala lembaga atau siapapun yang termasuk dalam unsur lembaga harus sepakat hari ini berkata A. Jadi tak ada tambahan apapun yang tiba- tiba ada salah satu unsur lembaga berkata beda dari A. Untuk itu tim ini harus paham betul bagaimana proses pendekat BCCT ini.



4. Mensosialisasikan BCCT



Di awal pembelajaran lembaga atau tim harus mensosialisasikan pendekatan BCCT ini kepada Walimurid sehingga akan dapat dipahami dan ada kesinambungan antara lembaga dan keluarga.


Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID Publisherumj
OrganisasiF
Nama KontakLutfi Ali Muharom
AlamatJl. Karimata 49
KotaJember
DaerahJawa Timur
NegaraIndonesia
Telepon0331323915
Fax-
E-mail Administratorlutfi.muharom@unmuhjember.ac.id
E-mail CKOhardian@unmuhjember.ac.id

Print ...

Kontributor...

  • , Editor:

Download...