PERPUSTAKAAN DIGITAL

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER



Path: Top -> S1 - Skripsi -> FKIP -> BHS INDONESIA

ANALISIS PERUBAHAN MAKNA KATA BERPREFIKS ME(N)- PADA KOLOM OPINI KORAN JAWA POS TERBITAN 1-7 MARET 2011

Skripsi/Tugas Akhir from umj / 2012-11-12 11:29:04
Oleh : Resy Bachtiar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Dibuat : 2012-11-12, dengan 1 file

Keyword : ANALISIS PERUBAHAN MAKNA KATA BERPREFIKS ME(N)



Latar Belakang


Seiring dengan perkembangan zaman, semakin berkembang pula kebutuhan masyarakat akan informasi. Informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat dapat diperoleh melalui bermacam-macam media, salah satunya melalui media cetak yaitu surat kabar. Dalam surat kabar masyarakat dapat memperoleh berbagai macam informasi mulai dari seputar informasi tentang pemerintahan, dunia olahraga, dunia politik, dan informasi lainnya. Surat kabar dapat pula berisi pendapat dalam bentuk kolom dan artikel. Namun karena keterbatasan tempat tidak semua pendapat dimuat dalam surat kabar. Hanya beberapa pendapat yang dimuat. Agar tulisan pendapat (opini) dalam surat kabar mampu dicerna dengan mudah oleh para pembacanya, ada satu unsur yang memiliki peran penting yaitu bahasa, bahasa yang baik adalah bahasa yang memperhatikan pemilihan kata dan struktur kalimat.

Sumarsono ( 2007: 22) menyatakan bahwa bahasa adalah sesuatu yang masih bersifat potensial: bahasa merupakan suatu sistem tanda yang masih tersimpan dalam pusat ingatan (memory) kita, siap untuk dituangkan (diaktualisasikan), diterjemahkan kedalam bunyi yang bersifat fisik, dalam proses tutur. Kridaklasana (dalam Chaer, 2007:32) menyatakan bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri. Noerzizsri (2006: 3) mengatakan bahwa bahasa adalah sistem lambang yang dibentuk berdasarkan aturan, kaidah atau pola tertentu, baik dalam bidang tata bunyi, tata bentuk kata maupun kalimat . Dari ketiga pendapat tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa, bahasa adalah merupakan rangkaian bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia secara sadar, dan bahasa itu diatur oleh sebuah sistem yang digunakan Sebagai alat berkomunikasi. Bahasa, harus mampu menampung perasaan dan pikiran pemakainya, serta mampu menimbulkan adanya saling mengerti antara penutur dengan pendengar atau antara penulis dengan pembacanya.

Bahasa dalam penampilannya diatur oleh suatu sistem tertentu, yang membedakan antara satu bahasa dengan bahasa yang lain. Seseorang akan mampu menguasai bahasa jika mengetahui sistem bahasa tersebut. Bahasa Indonesia sebagai salah satu bahasa sudah tentu tidak dapat keluar dari sistem yang mengikatnya. Kesempurnaan bahasa Indonesia ditentukan sistem pembentukan kata dan pola pembentukan kalimat.

Dalam pembentukan kata dan kalimat, ada cabang ilmu yang mempelajarinya dalam bahasa Indonesia, cabang ilmu bahasa yang mempelajari pembentukan bunyi, kata, klausa, kalimat, dan makna meliputi fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Masing-masing cabang ilmu bahasa tersebut saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Dalam menyusun kalimat dibutuhkan kata yang sesuai untuk membangun kontruksi kalimat tersebut, sehingga kalimat menjadi lebih efektif dan komunikatif. Kata dan pembentukan kata didalam bahasa Indonesia di pelajari dalam ilmu morfologi.

Arifin dan Junaiyah (2007: 2) menyatakan morfologi merupakan ilmu bahasa yang mempelajari seluk-beluk kata. Chaer (2008: 3) mengatakan morfologi adalah ilmu mengenai bentuk-bentuk dan pembentukan kata. Dari kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa morfologi merupakan ilmu yang mempelajari seluk-beluk kata dan pengaruh perubahan bentuk kata tersebut terhadap golongan. Salah satu subpokok pembahasan yang dibahas dalam morfologi yaitu afiksasi atau imbuhan.

Afiksasi adalah proses pembubuhan afiks pada kata dasar atau bentuk dasar. Dalam proses ini terdapat bentuk dasar, afiks, dan makna gramatikal yang dihasilkan (Chaer, 2007: 177). Afiksasi adalah hasil dari penambahan afiks (Muda, 2006: 18). Pendapat-pendapat tentang afiksasi sangat beragam tetapi mempunyai satu kesimpulan yaitu, afiksasi ialah proses pembentukan kata dengan cara memberikan imbuhan (awalan, sisipan, akhiran, dan terbelah) terhadap kata dasar atau perekatan morfem terikat terhadap morfem bebas. Proses afiksasi ini menghasilkan kata baru dan kata baru ini mempunyai makna baru dalam pembentukan kalimat.

Pada dasarnya afiksasi dibagi menjadi empat, yaitu prefiks, sufiks, infiks dan konfiks. Arifin dan Junaiayah (2007: 4-6) menyatakan bahasa Indonesia memiliki empat jenis imbuhan, yaitu awalan (prefiks), sisipan (infiks), akhiran (sufiks), dan imbuhan terbelah (konfiks) dan prefiks memiliki delapan jenis yaitu, ber-, per-, pe(N)-, me(N)-, di-, ter-, ke- dan se-.

Setiap kalimat dalam karya tulis apapun yang berhubungan dengan kegiatan kebahasaan pasti terdapat prefiks. Setiap penggunaan prefiks akan terjadi perubahan makna kata pada kata berprefiks tersebut. Seperti lembar baca pada kolom opini yang terdapat dalam surat kabar.

Opini berisi pendapat yang ditulis oleh pembaca atau masyarakat. Penulis dalam menulis opini memiliki tujuan untuk memberikan pandangan baru terhadap masalah yang paling hangat dibicarakan atau diperbincangkan saat itu terhadap pembacanya. Kolom opini dapat ditemukan dalam koran.

Koran yaitu surat kabar (Muda, 2006: 285 ). Surat kabar berasal dari dua kata yaitu surat dan kabar. Surat yaitu kertas yang bertuliskan untuk dikirim ke orang lain (Muda,2006: 510). Sedangakan kabar yaitu berita atau informasi peristiwa yang masih belum lama berlangsung (Muda,2006: 284). Dari pengertian surat dan kabar dapat disimpulkan, surat kabar yaitu berita atau informasi peristiwa yang masih belum lama berlangsung yang ditulis untuk dikirimkan atau dibaca oleh orang lain.

Salah satu surat kabar yang ada kolom opininya yaitu koran Jawa Pos. Koran Jawa Pos merupakan koran dengan jumlah pembaca nomor satu di indonesia versi AC Nielson. Selain itu, Jawa Pos mendapat penghargaan dari Marketeers dan Markpluss Insight sebagai koran paling favorit anak muda (Jawa Pos, 6 Mei 2011). Kata-kata yang digunakan dalam koran Jawa Pos, untuk membangun kalimat efektif dan paragraf, mudah dipahami oleh pembaca. Koran Jawa Pos juga memilki kelebihan yang lain yaitu, beritanya yang aktual, bahasanya informatif, setting korannya yang menarik, beritanya variatif lokal dan internasional, tidak membosankan, mudah diperoleh dan harganya yang murah dengan kualitas yang bagus.

Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis bermaksud meneliti tentang prefiks. Namun tidak semua prefiks diteliti. Penulis hanya memfokuskan meneliti prefiks me(N)- karena prefiks tersebut merupakan prefiks yang paling sering digunakan pada kegiatan berbahasa, termasuk berbahasa tulis seperti kolom opini dalam Koran Jawa Pos. Tidak semua kolom opini dalam koran Jawa Pos dijadikan sebagai sumber data, sumber data yang diambil hanya yang ditampilkan atau dicetak mulai tanggal satu sampai tujuh Maret 2011. Hal tersebut beralasan bahwa penelitian ini bukan penelitian yang mengukur tingkat kemampuan, namun penelitian ini bersifat kualitatif dan sesuai dengan tujuan yang nantinya ingin dicapai, yaitu untuk mengetahui perubahan makna kata prefik me(N)-. Sehingga penelitian yang penulis lakukan berjudul Analisis Perubahan Makna Kata Berprefiks Me(N)- Pada Kolom Opini Koran Jawa Pos Terbitan 1-7 Maret 2011.


Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID Publisherumj
OrganisasiF
Nama KontakLutfi Ali Muharom
AlamatJl. Karimata 49
KotaJember
DaerahJawa Timur
NegaraIndonesia
Telepon0331323915
Fax-
E-mail Administratorlutfi.muharom@unmuhjember.ac.id
E-mail CKOhardian@unmuhjember.ac.id

Print ...

Kontributor...

  • , Editor:

Download...