PERPUSTAKAAN DIGITAL

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER



Path: Top -> S1 - Skripsi -> FKIP -> BIOLOGI

UJI TOKSISITAS EKSTRAK DAUN MIMBA (Azadirachta indica) TERHADAP MORTALITAS WERENG COKLAT (Nilaparvata lugens) (Sebagai Alternatif Sumber Belajar Biologi Pokok Bahasan Hama Dan Penyakit Pada Tumbuhan Di SMP Kelas VIII Semester I)

Skripsi/Tugas Akhir from umj / 2012-11-19 09:35:42
Oleh : Bagus Pras Pramudya Ananta, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Dibuat : 2012-11-19, dengan 1 file

Keyword : toksisitas, ekstrak, daun mimba (Azadirachta indica), mortalitas, wereng coklat (Nilaparvata lugens), sumber belajar biologi.



Latar Belakang


Perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat pesat, menuntut usaha belajar yang efisien dan efektif. Banyak terjadi salah konsep dalam pelaksanaan proses belajar mengajar IPA yang bersumber pada aspek kedudukan guru, siswa dan materi pelajaran serta sistem interaksinya. Pelaksanaan pembelajaran IPA, cenderung berpusat pada guru dalam arti, proses belajar mengajar didominasi oleh guru sedang siswa lebih banyak pasif dan menerima informasi-informasi hasil produk IPA. Cara belajar sekarang ini cenderung sekedar memahami konsep – konsep yang telah jadi, kurang melakukan deskripsi dan manipulasi objek dan kejadian nyata, akibatnya selain anak kurang memahami hakikat konsep yang telah dipelajari, juga kurang memiliki keterampilan belajar sains secara benar.

Pembelajaran yang demikian itu seringkali membuat kita kecewa terutama apabila dikaitkan dengan pemahaman siswa/mahasiswa mengapa?

a. Banyak siswa mampu menyajikan tingkat hafalan yang baik terhadap materi ajar yang diterimanya, tetapi pada kenyataannya mereka tidak memahaminya.

b. Sebagian besar siswa tidak mampu menghubungkan antara apa yang mereka pelajari dengan bagaimana pengetahuan tersebut akan dipergunakan / dimanfaatkan.

c. Siswa sulit memahami konsep akademik sebagaimana mereka biasa diajar guru yang menggunakan sesuatu yang abstrak dan metode ceramah.

Proses pembelajaran di luar kelas dengan menghadapkan para siswa kepada lingkungan yang aktual untuk dipelajari, diamati dalam hubungannya dengan proses belajar mengajar lebih bermakna disebabkan para siswa dihadapkan dengan peristiwa dan keadaan yang sebenarnya secara alami, sehingga lebih nyata, lebih faktual dan kebenarannya lebih dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu lingkungan di sekitar siswa harus dioptimalkan sebagai media dalam pengajaran dan lebih dari itu dapat dijadikan sebagai sumber belajar bagi siswa dalam mempelajari biologi.

Solusi untuk mengatasi permasalahan cara pembelajaran yang konvensional ialah dengan adanya pembaharuan dibidang pendidikan, utamanya yang berkaitan dengan kurikulum pendidikan, karena kurikulum pendidikan yang ada masih kurang efektif dan hal tersebut menuntut adanya pembaharuan yang lebih efektif dan sesuai dengan tuntutan perkembangan IPTEK. Salah satu model kurikulum yang mendukung adanya perubahan proses pembelajaran ini adalah kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP).

KTSP adalah suatu model pengembangan kurikulum yang berbasis sekolah dan model manajemen pengembangan kurikulum berbasis sekolah. Kelebihan kurikulum KTSP dibanding dengan kurikulum yang sebelumya ialah pada kurikulum KTSP memberikan alokasi waktu yang lebih pada pengembangan diri siswa. Siswa tidak selalu diharuskan untuk mengenal teori, tetapi diajak untuk terlibat dalam sebuah proses untuk menemukan sebuah fakta-fakta untuk menemukan sebuah konsep dengan hal tersebut siswa akan banyak mendapatkan pengalaman belajar.

Sumber belajar biologi dengan memanfaatkan lingkungan yang ada di sekitar kita masih jarang sekali dilakukan oleh guru-guru SMA, padahal penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar biologi sangat baik untuk melatih kemampuan ilmiah siswa. Melalui penelitian tersebut, siswa akan mendapatkan cakrawala baru yang tidak mungkin dijumpainya bila hanya membaca buku.

Belajar biologi adalah belajar untuk mengungkapkan rahasia alam yang menyangkut makhluk hidup. Hal ini memberikan konsekuensi untuk digunakan sebagai sumber belajar biologi dan hal ini sejalan dengan tujuan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), yaitu agar siswa menjadi akrab dengan lingkungannya yang merupakan objek belajar biologi. Penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar akan meningkatkan pengalaman dan aktivitas belajar.

Pembelajaran mengenai sumber bahan makanan pokok di alam juga merupakan salah satu kajian ilmu yang dapat dipelajari. Berbagai macam sumber bahan makanan pokok yang dapat dipelajari diantaranya padi, gandum, jagung,ketela, dll.

Padi merupakan bahan makanan pokok bagi rakyat Indonesia, dan kebutuhannya sangat banyak, tetapi petani sendiri belum mampu memenuhi kebutuhan akan padi dalam negeri, dimana banyak faktor yang mempengaruhi kurangnya pasokan padi dari petani.

Hama dan penyakit pada tumbuhan padi sangat beragam, disamping faktor lingkungan (curah hujan, suhu dan musim) yang sangat mempengaruhi terhadap produksi padi. Belum lagi mahalnya bibit, biaya produksi, pengangkutan dan harga jual yang rendah sehingga petani banyak mengalami gagal panen dan tidak dapat meningkatkan kehidupan dan kesejahteraan keluarganya (Siregar, 2007:1, (Online) diakses pada 04 Maret 2010).

Syam, dkk. (2007:4 (Online) diakses pada 8 Maret 2011) mengungkapkan wereng coklat (WCK) (Nilaparvata lugens) menjadi salah satu hama utama tumbuhan padi di Indonesia sejak pertengahan tahun 1970-an. Ini merupakan konsekuensi dari penerapan sistem intensifikasi padi (varietas unggul, pemupukan N dosis tinggi, penerapan IP>200, dsb). Penggunaan pestisida yang melanggar kaidah-kaidah PHT (tepat jenis, tepat dosis, dan tepat waktu aplikasi) turut memicu ledakan wereng coklat.

Dengan menghisap cairan dari dalam jaringan pengangkutan tanaman padi, Wereng Coklat dapat menimbulkan kerusakan ringan sampai berat pada hampir semua fase tumbuh, sejak fase bibit, anakan, sampai fase masak susu (pengisian) (Syam, dkk. 2007:4, (Online) diakses pada 8 Maret 2011). Siregar (2007:3 (Online) diakses pada 04 Maret 2010) menambahkan hama ini selalu menghisap cairan dan air dari batang padi muda atau bulir-bulir buah muda yang lunak, dapat meloncat tinggi dan tidak terarah, berwarna coklat, berukuran 3-5 mm, habitat ditempat lembab, gelap dan teduh.

Menurut Rukmana dan Oesman (2002: 9) sejak dulu hingga sekarang, pemakaian pestisida merupakan salah satu alternatif untuk mengamankan produksi pertanian dunia Penggunaan pestisida kimia memang dapat mengamankan produksi pertanian secara ekonomis, karena pestisida kimia memiliki keunggulan komparatif diantaranya :

1. Sangat mangkus (efektif).

2. Praktis dan luwes, dalam pengertian mudah dikerjakan kapan saja dan oleh siapa saja, baik pada keadaan rutin ataupun darurat.

3. Cocok atau kompatibel dengan teknik pengendalian yang lain.


Dalam Tarumingkeng (2009, (Online) diakses pada 13 Maret 2011) pestisida mencakup bahan-bahan racun yang digunakan untuk membunuh jasad hidup yang mengganggu tumbuhan, ternak dan sebagainya yang diusahakan manusia untuk kesejahteraan hidupnya. Pest berarti hama, sedangkan cide berarti membunuh.

Menurut Rukmana dan Oesman (2002:9) dalam perkembangan selanjutnya, penggunaan pestisida semakin me¬ningkat dengan pesat, baik jenis, dosis, maupun interval pemakaiannya. Penggunaan pestisida secara intensif dan berlebihan dapat menimbulkan berbagai masalah yang serius serta merugikan manusia dan hewan.

Dijelaskan oleh Rukmana dan Oesman (2002:10) konsekuensi penggunaan pesti¬sida secara intensif dan berlebihan antara lain adalah sebagai berikut :

1. Dapat meracuni manusia dan hewan domestik.

2. Meracuni organisme yang berguna, misalnya musuh alami hama, lebah dan serangga yang membantu penyerbukan, dan satwa liar yang men¬dukung fungsi kelestarian alam.

3. Mencemari lingkungan dengan segala akibatnya, termasuk residu pestisida.

4. Menimbulkan strain hama baru yang resisten terhadap pestisida.

5. Menimbulkan terjadinya resurgensi hama atau peristiwa meningkatnya populasi hama setelah diperlakukan dengan pestisida tertentu.

6. Menyebabkan terjadinya ledakan hama sekunder dan hama potensial.

7. Memerlukan biaya yang mahal karena sifat ketergantungan keberhasilan budi daya tanaman pada pestisida.


Dengan melihat banyaknya dampak negatif yang ditimbulkan akibat pengguna¬an pestisida kimia dalam upaya penanggulangan hama dan penyakit pada tumbuhan, maka diperlukan teknik pengendalian yang tepat dan aman bagi manusia dan lingkungan, serta efektif terhadap sasaran.

Rukmana dan Oesman (2002:10) menjelaskan untuk mengatasi dampak negatif penggunaan pestisida kimia, dapat digunakan pestisida alami atau bahan-bahan nabati. Indo¬nesia kaya akan potensi tanaman penghasil racun untuk memberantas organisme pengganggu tanaman. Pemanfaatan potensi tersebut dapat di¬wujudkan melalui teknologi tradisional maupun teknologi modern.

Tumbuh¬an anti hama atau penghasil racun untuk memberantas organisrne penggang¬gu tanaman harus memenuhi kriteria sebagai berikut: merupakan tanaman tahunan; memerlukan sedikit ruang, tenaga kerja, pupuk, dan air; bukan merupakan tanaman inang atau sumber hama lain; memiliki kegunaan lain selain sebagai pestisida alami; dan bahan anti hama dapat diambil tanpa mematikan tanaman yang bersangkutan (Rukmana dan Oesman, 2002:10).

Mimba (Azadirachta indica) merupakan salah satu tumbuhan sumber bahan pestisida (pestisida nabati) yang dapat dimanfaatkan untuk pengendalian hama. Tanaman ini tersebar di daratan India. Di Indonesia tanaman ini banyak ditemukan di sekitar Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan NTB. Dataran rendah dan lahan kering dengan ketinggian 0-800 dpl merupakan habitat yang terbaik untuk pertumbuhan tanaman mimba. Penanaman dapat dilakukan melalui stek, cangkok, dan biji. Tanaman mimba umumnya berbuah pada umur 3-5 tahun, dan pada umur 10 tahun tanaman mulai produktif berbuah. Buah yang dihasilkan dapat mencapai 50 kg per pohon. Tanaman mimba hanya berbuah setahun sekali (sekitar bulan Desember-Januari) (Astutik. 2010, (Online) diakses pada 04 Maret 2011).

Bagian tanaman mimba yang dapat digunakan sebagai pestisida nabati adalah daun dan bijinya. Ekstrak daun dan biji mimba mengandung senyawa aktif utama azadiraktin. Selain bersifat sebagai insektisida, mimba juga memiliki sifat sebagai fungisida, virusida, nematisida, bakterisida, maupun akarisida (Balai Penelitian kacang-kacangan dan Umbi-umbian. 2011, (Online) diakses pada 11 Maret 2011).

Rukmana dan Oesman (2002:13) mengungkapkan bagian-bagian tanaman mimba mengandung tidak kurang dari 34 senyawa kimia, terutama dari kelompok diterpena, triterpena, dan flavonoid. Tanaman mimba mengandung senyawa nimbin, salannin, thionemon, azadirachtin, dan berbagai flavonoid yang oleh para ahli diyakini bersifat nematisidal. Senyawa-senyawa tersebut banyak terdapat di dalam biji dan daun tanaman mimba.

Senyawa-senyawa yang dikandung daun mimba seperti azadirachtin, salanin dan meliantriol tersebut itulah yang diduga dapat memberikan efek toksisitas terhadap serangga. Selain itu, tanaman mimba mudah ditemukan disekitar lingkungan kita, namun sangat disayangkan masih minimalnya pemanfaatan dari tanaman mimba ini.

Penelitian yang akan dilakukan meliputi uji toksisitas ekstrak daun mimba terhadap mortalitas wereng coklat. Bentuk ekstrak dipilih dengan alasan untuk menghilangkan beberapa variabel seperti : waktu pemetikkan daun, iklim, asal daerah pengambilan, musim, dan lain-lain.


Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID Publisherumj
OrganisasiF
Nama KontakLutfi Ali Muharom
AlamatJl. Karimata 49
KotaJember
DaerahJawa Timur
NegaraIndonesia
Telepon0331323915
Fax-
E-mail Administratorlutfi.muharom@unmuhjember.ac.id
E-mail CKOhardian@unmuhjember.ac.id

Print ...

Kontributor...

  • , Editor:

Download...