PERPUSTAKAAN DIGITAL

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER



Path: Top -> S1 - Skripsi -> FISIP -> ilmu komunikasi

TANGGAPAN MASYRAKAT PADA SIARAN BERITA LOKAL RADIO MANDALA FM BANYUWANGI

Skripsi/Tugas Akhir from umj / 2012-03-27 09:49:02
Oleh : Arif Susanto , Fakultas Ilmu Sosial dan Politik
Dibuat : 2012-03-27, dengan 1 file

Keyword : Siaran Berita Radio Lokal, Opini masyarakat pada siaran berita radio



latar balakang


Walaupun peran media televisi begitu menonjol di tengah masyarakat, tidak dapat dipungkiri bahwa sampai sekarang keberadaan radio masih tetap relevan. Dalam konteks itu, tentu saja pertanyaannya adalah sampai sejauh mana para pengelola siaran radio itu mampu mengemas informasi yang diudarakan. Yang jelas, masyarakat kita masih berada pada dua sisi yang berlainan dalam menikmati teknologi komunikasi semacam radio. Untuk itu, mengemas dualisme, yakni sebagai sarana informasi dan hiburan, menjadi ukuran penting yang harus dilakukan oleh praktisi di bidang siaran radio dari masa ke masa.

Sejak awal, program-program siaran yang ditawarkan radio sebagai public broadcasting medium ( media penyiaran untuk umum ) terutama di negara seperti Amerika Serikat dan Inggris, memang selalu bersifat instruktif, yaitu berisi program pendidikan atau bimbingan. Di sini masyarakat dijadikan sebagai obyek atau sasaran suatu program, kendati dalam perkembangannya kemudian memang program-program ini di rancang atau dikemas secara lebih halus untuk mamanipulasi kesadaran masyarakat (easy listening formula).

Di Indonesia, dewasa ini semakin tampak bahwa dari sisi masyarakat dan pendengar fungsi radio bergerak pada dua sisi. Di suatu sisi, radio merupakan sumber informasi dan pada sisi lainnya radio adalah sarana hiburan. Kedua sisi itu tidaklah sama, meskipun secara bersamaan melekat pada setiap pendengar radio. Ini terjadi karena ada pendengar yang lebih mengutamakan sisi informasi, dan ada pula pendengar yang lebih condong pada sisi hiburannya saja.

Secara garis besar dua sisi itulah yang menjadi kecenderungan utama masyarakat dalam memanfaatkan radio, karena bagi mereka radio merupakan sumber informasi yang secara bersamaan juga berfungsi sebagai alat hiburan, bahkan memberi peluang bagi masyarakat memperoleh pendidikan.

Memang tidak mudah mengetahui lebih mendalam kecenderungan masyarakat Indonesia dalam memanfaatkan radio, karena adanya perbedaan latar belakang agama, latar belakang wilayah, latar belakang sosial, ekonomi, politik pendidikan, serta budaya, yang mempengaruhi motivasi masyarakat dalam memanfaatkan radio. Kendati demikian, sekarang timbul kesadaran bahwa dari sisi pendengar pemanfaatan radio sebagai sumber informasi, secara bersamaan juga menjadi sarana hiburan. Karena itu, tak mengherankan bahwa sekarang ini banyak kemasan program yang tidak lagi bersifat monolitik, atau berita saja, atau hiburan saja, tetapi kedua-duanya. Pihak pengelola badan siaran radio dapat mengemasnya secara lebih integratif, karena informasi bisa dikemas dalam bentuk hiburan, begitu pula sebaliknya.

Sepintas lalu, hubungan lingkungan hidup dengan komunikasi mungkin tidak nampak. Namun kalau dipikirkan secara lebih mendalam, lingkungan hidup sebenarnya merupakan konsep yang sangat relevan bagi komunikasi ditinjau dari berbagai segi.

Pertama, dipandang dari segi luas, komunikasi hanya berarti dalam konteks lingkungan hidup. Pada intinya. komunikasi adalah proses yang menyangkut hubungan manusia dengan lingkungan sekitarnya Tanpa komunikasi manusia jadi terpisah dari lingkungan. Namun tanpa lingkungan komunikasi menjadi kegiatan yang tidak relevan. Dengan kata lain, manusia berkomunikasi karena perlu mengadakan hubungan dengan lingkungannya, meskipun caranya berbeda tergantung lingkungan yang dihadapi, umpamanya dengan lingkungan sosial tertentu.

Kedua, secara langsung atau tidak sebagian besar komunikasi manusia sebenarnya menyangkut atau bertitik tolak pada informasi tentang lingkungannya. Baik mengenai benda fisik dan komponen lingkungan itu, prinsipnya yang mengatur hubungan antara komponen tersebut, proses dan cara kerjanya, ataupun gagasan dan keinginan yang ada dalam otak manusia mengenai bagaimana seharusnya lingkungan itu. Ini bukanlah hal baru. Pengetahuan dan konsep yang ada pada seseorang dibentuk pertama kali oleh lingkungannya, atau berdasar kepada hal-hal yang diamati dari lingkungan. Andaikata ia kemudian belajar tentang hal-hal mengenai lingkungan yang lain, informasi itu pun akan selalu mengacu atau dibandingkan dengan lingkungan sekitarnya. Itulah sebabnya maka komunikasi biasanya lebih lancar dan lebih efektif jika menyangkut atau berkaitan dengan lingkungan yang telah dikenalnya. Dapat dikatakan komunikasi akan makin berarti bagi seseorang jikalau informasi yang disampaikan makin terkait dengan lingkungan orang itu.

Berkaitan erat dengan ini adalah relevansi lingkungan yang ketiga, yaitu dari segi fungsi komunikasi. Seperti yang dikemukakan banyak pakar, bahwa salah satu fungsi penting komunikasi bagi manusia dalam masyarakat adalah pengamatan lingkungan. Di mana ada media, fungsi ini terbantu dengan komunikasi massa yang diharapkan menyampaikan hasil pengamatan secara teratur dan sistematik. Dimana tidak ada media, fungsi ini dilakukan melalui komunikasi interpersonal dan sosial. Orang saling bertanya dan bertukar informasi setiap hari untuk mendapatkan gambaran mengenai perubahan yang terjadi dan keadaan terakhir (termasuk ancaman, bahaya maupun keadaan yang menguntungkan) yang berkembang di sekitaraya, agar mereka dapat menyesuaikan kehidupannya, sebaik mungkin (M. Alwi Dahlan, 1987: 2-3). Oleh karena itu informasi yang diperoleh melalui berbagai media massa memegang peranan sangat penting dalam membentuk sikap mental masyarakat agar dapat berperan secara aktif dalam pelaksanaan pembangunan umumnya dan terhadap kesadaran untuk aktif menjaga kelestarian lingkungan khususnya. Namun dalam pemberian informasi kepada masyarakat ada masalah-masalah yang harus dihadapi;

1. Pemastian penerimaan informasi.

2. Informasi lintas batas (transfrontier).

3. Informasi tepat waktu (timely information).

4. Informasi lengkap (comprehensive information).

5. Informasi yang dapat dipahami (comprehensible information).

Adanya permasalahan ini menuntut bahwa informasi yang dibutuhkan, diharapkan akan memberikan manfaat dan tambahan pengetahuan bagi masyarakat. Kedudukan masyarakat amat penting karena keefektifannya bertindak selaku pengawas terhadap setiap adanya permasalahan lingkungan sehingga diharapkan dengan secepatnya kondisi tersebut diantisipasi dan dikembalikan ke keadaan semula.

Dengan makin berkembangnya teknologi komunikasi yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pembangunan dan kelestarian lingkungan, sebenarnya masalah kecepatan, daya jangkau, ketepatan, volume maupun jenis informasi yang dapat diberikan kepada masyarakat sudah tidak lagi menjadi permasalahan. Dalam kenyataannya masyarakat masih banyak yang belum memahami apa yang seharusnya diketahui mengenai lingkungan sekitarnya terutama terhadap kegiatan-kegiatan yang memungkinkan timbulnya masalah lingkungan. Seiring dengan tumbuhnya kesadaran masyarakat, akhir-akhir ini masalah lingkungan banyak menarik perhatian terutama dari media massa yang meliput secara langsung atau berdasarkan laporan dari masyarakat yang terkena dampak masalah lingkungan.

Dari ketentuan Undang Undang No. 4 Tahun 1982 Pasal 9 tentang Lingkungan Hidup yang berbunyi; "Pemerintah berkewajiban menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran masyarakat akan tanggung jawab dalam pengelolaan lingkungan hidup melalui penyuluhan, bimbingan, pendidikan, dan penelitian tentang lingkungan hidup". Serta penjelasannya; "Pendidikan untuk menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran masyarakat dilaksanakan baik melalui jalur pendidikan formal mulai dari taman kanak-kanak atau sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi maupun melalui jalur pendidikan nonformal". Penyebarluasan informasi lingkungan dapat dilaksanakan melalui penyuluhan, bimbingan, pendidikan secara formal maupun non formal. Dengan makin berkembangnya kesadaran dan kehidupan masyarakat dalam mengelola lingkungan hidup maka dikeluarkanlah peraturan perundangan lingkungan hidup yang baru yaitu Undang Undang No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup yang merupakan penyempurnaan dari Undang Undang No. 4 Tahun 1982. Selanjutnya Undang Undang No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup ini disebut UUPLH.

Berbagai bentuk informasi lingkungan wajib diberikan pemerintah kepada masyarakat untuk peningkatan kesadaran akan hak dan tanggung jawab masyarakat dalam mengelola lingkungannya. Jika dikaitkan dengan ketentuan Pasal 7 ayat (1) UUPLH yang menyebutkan; “Masyarakat mempunyai kesempatan yang sama dan seluas-luasnya untuk berperan dalam pengelolaan lingkungan hidup”. Maka tanggung jawab terhadap lingkungan bukan hanya terletak kepada pemerintah saja tetapi juga pada masyarakat secara keseluruhan karena baik secara langsung maupun tidak langsung masyarakat merasakan dampak negatif dari kerusakan lingkungan itu. Dengan dasar pemikiran itu penggunaan berbagai media massa sangat menunjang berbagai bentuk usaha peningkatan peran serta masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup.

Dari dua bentuk media massa yaitu media elektronik dan media cetak, radio merupakan salah satu media elektronik yang berfungsi sebagai media penyampaian informasi dan dinilai mampu untuk menjangkau segala lapisan masyarakat. Oleh karena itu rasio memegang peranan pentin dalam menumbuhkan dan membina sikap mental masyarakat dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah lingkungan.

Dari ketentuan Pasal 12 ayat (3) Undang-Undang No. 3 Tahun 1989 tentang Telekomunikasi yang menyatakan bahwa; "Penyelenggaraan telekomunikasi untuk keperluan khusus dapat dilakukan oleh instansi pemerintah tertentu, perseorangan, atau badan hukum selain badan penyelenggaraan dan badan lain sebagai mana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2)", maka secara jelas dinyatakan bahwa di samping pemerintah selaku pembina dan penyelenggara telekomunikasi pihak swasta dapat juga berperan serta baik perseorangan maupun badan hukum. Ketentuan ini berimplikasi kepada media elektronik, televisi maupun radio, sehingga pada saat ini telah berdiri sejumlah televisi swasta dan radio swasta.

Dalam hal ini, penelitian lebih di fokuskan kepada pemberian informasi yang datangnya dari radio. Kebutuhan pendengar Radio tidak hanya sekedar mencari media hiburan, mendengarkan musik atau lagu favorit. Pendengar juga bisa menyalakan radio untuk mendengarkan berita. Artinya radio bukan lagi sekedar media hiburan, tetapi juga sumber informasi layaknya surat kabar dengan satu catatan tanpa harus membayar uang langganan.

Saat reformasi datang, jurnalistik di radio menjadi bergairah.seperti menemukan semangat baru sebagai insan independen dan media yang bertanggung jawab ke publik, insan radiao berlomba menawarkan program jurnalistik. Selain makin diminati dan meraih banyak pendengar, prgram jurnalistik radio juga menghasilkan investasi komersial yang menggiurkan , terutama terhadap radio yang sudah konsisten berjurnalistik. Hal ini selaras dengan dengan pemaparan Masduki (2001:2) dalam bukunya jurnalistik elektrnik, bahwa era radio hiburan telah berakhir. Radio informasi yang berjurnalistik bukan hanya lebih berkarakter kuat di masyarakat, melainkan juga sangat di perhitungkan dalam proses pengambilan keputusan, baik keputusan pengiklanan maupun keputusan pemerintah.

Selain itu siaran berita lokal di radio sebagai jawaban terhadap kebutuhan dan kepentingan masyarakta setempat. Kengingat karena wujudnya yang bersifat melayani (serve) bukan sekedar menginformasikan (to inform), maka program jurnalistik di radio sangat terasa manfaatnya, misalnya siaran informasi lebaran (arus mudik lebaran), jemaah haji, tes PNS dan lain-lain.

Penyebarlusan berita lokal kepada publik radio, tentu saja berpengaruh pada tanggapan pendengar terhadap berita yang disiarkan. Dalam hal ini, tentunya radio tidak ingin ditinggalkan oleh pendengarnya. Akibat adanya tangapan yang tidak menguntungkan lembaganya. Terlebih meningkatnya sikap kritis masyarakat dan pergeseran budaya dengar dari pasif menjadi aktif.

Tanggapan masyarakat khususnya Kelurahan Taman Baru Kecamatan Banyuwangi yang menjadi objek penelitian kali ini. Mengingat Kelurahan Taman Baru adalah kelurahan yang ada dalam kota Banyuwangi dan mempunyai karakter berbeda dengan masyarakat yang hidup di pedesaan. Yang hidup sana sudah banyak yang tergolong berpendidikan tingggi dan cenderung hidup sendiri-sendiri tanpa interaksi dengan masayarakat sekitar di karenakan kegiatan sehari-hari mayarakatnya yang bermacam-macam, ada kerja di kantoran, menjadi PNS, menjadi pedagang dan lain sebagainya.

Berangkat dari ilustrasi di atas, mengenai siaran radio dan sikap makin kritis masyarakat terhadap siaran radio, maka peneliti tertarik untuk lebih mengetahui sejauh mana tanggapan masyarakat kelurahan Tamanbaru kecamatan banyuwangi terhadap siaran berita lokal di Radio Mandala FM. Khususnya siaran berita lokal Banyuwangi. Peneliti memilih Radio Mandala FM, dikarenakan Radio Mandala FM merupakan salah satu radio siaran publik terbesan di Banyuwangi.


Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID Publisherumj
OrganisasiF
Nama KontakLutfi Ali Muharom
AlamatJl. Karimata 49
KotaJember
DaerahJawa Timur
NegaraIndonesia
Telepon0331323915
Fax-
E-mail Administratorlutfi.muharom@unmuhjember.ac.id
E-mail CKOhardian@unmuhjember.ac.id

Print ...

Kontributor...

  • , Editor:

Download...